Tampilkan postingan dengan label Sakit THT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sakit THT. Tampilkan semua postingan

Intensitas Suara Yang Aman Untuk Telinga Manusia

Batasi Bising Suara Yang Terlalu Kuat Masuk Telinga
Berada di keramaian dengan intensitas suara 80 desibel, waktu terpapar boleh 24 jam. Bila intensitas suara 85 desibel boleh 8 jam. Sedangkan 82 desibel boleh 16 jam. Contohnya, berada di lingkungan dengan lalulintas ramai, radio keras, dan petugas pengatur stereo. Bila intensitas suara mencapai 90 desibel, waktu terpapar cukup 4 jam. Untuk 91 desibel sebaiknya dibatasi 2 jam. Misalnya, mendengar dering telepon serta tempat bermain anak di mal. Berada di lingkungan dengan intensitas suara 92 desibel, waktu terpapar boleh 1 jam. Untuk 97 desibel tidak lebih dari 30 menit. Misalnya, mendengar suara pemotong rumput atau gergaji listrik. Bila intensitas suara sudah mencapai 100 desibel, waktu terpapar maksimal 15 menit. Diantaranya konser musik dan suara jet.
Ukuran Kekuatan Suara
30 DB: suara lemah berbisik.
85 DB: batas aman, lebih baik menggunakan pelindung telinga.
90 DB: merusak pendengaran dalam waktu 8 jam. 
Contohnya, pemotong rumput, suara truk di kemacetan.
100 DB: merusak pendengaran dalam waktu  2 jam. 
Contohnya, gergaji mesin, mendengarkan suara lewat headphone.
105 DB: merusak pendengaran dalam waktu 1 jam. 
Contohnya, Suara helicopter, mesin pemecah batu.
115 DB: merusak pendengaran dalam waktu 15 menit. 
Misalnya, tangisan bayi, riuh di stadion sepakbola.
120 DB: merusak pendengaran dalam waktu 7,5 menit. 
Misalnya, konser rock.
125 DB: ambang rasa nyeri. Misalnya mercon dan sirene.
140 DB: membahayakan pendengaran dalam waktu singkat. 
Misalnya, suara tembakan dan mesin jet.
(Source: Jawa Pos)
more »

Gangguan Pendengaran Bayi Cek Saat Umurnya Dua hari

Gangguan pendengaran pada anak 
sering diketahui sangat terlambat. Padahal pendeteksian fungsi pendengaran anak bisa dilakukan sejak si kecil berumur 2 hari. Apa saja tes yang perlu dilakukan? Menurut dokter spesialis THT, anak dengan gangguan pendengaran diharapkan tetap bisa berbicara. 
Ada beberapa prosedur penegakan diagnosis yang sesuai untuk anak
BOA (behavioral observation audiometry) 
atau tes pendengaran dengan pengamatan perilaku anak terhadap stimulus suara. Respon yang diamati antara lain adalah mengerjapkan mata, membelalakkan mata, mengerutkan wajah, dan denyut jantung meningkat. Pemeriksaan tersebut dibantu audiometer. Fungsinya, mengukur ambang pendengaran balita.
Pemeriksaan lain memakai timpanometer 
Alat itu bermanfaat menentukan kondisi gendang telinga (misalnya, terdapat kekakuan). Juga memastikan kondisi ruang telinga tengah, yang terletak di belakang gendang telinga, misalnya terdapat cairan. Telinga tengah dipastikan bersih. Adanya cairan bisa mengganggu pemeriksaan.
Berikutnya adalah OAE (otoacouetic emission)
berupa sumbat liang telinga (probe) berbahan karet. Di dalam probe terdapat pengeras alat suara dan mikrofon mini. Alat tersebut terhubung dengan kabel kea lat perekam. Gunanya untuk mengetahui kondisi rumah siput (koklea) balita. Alat itu bisa digunakan pada bayi berumur  hari.
Pemeriksaan lain, brainstem evoked response audiometry (BERA) 
Pemeriksaan tersebut mengamati reaksi system syaraf pendengaran dan batang otak pada saat dilalui rangsang bunyi. Serta pemeriksaan dengan auditory steady state response (ASSR). 
Dari aneka pemeriksaan tersebut, dilakukan pengelompokan hasil. Bila positif, berarti anak mengalami gangguan pendengaran. Tidak tertutup kemungkinan anak disarankan mengenakan alat Bantu dengar. Setelah itu orang tua sebaiknya proaktf. Terutama mengikutkan anak AVT (auditory verbal therapy). Kalau komitmen orang tua kurang kuat, hasilnya juga tidak akan maksimal.
(Source: Jawa Pos)
more »

Cegah Tuli Dengan Kapas

Biasa Suara Keras Sebabkan Tak Peka Bisikan
Saat ini remaja gemar mengenakan headset di mana pun. Mulai jalan-jalan sampai membaca buku di kamar, biasanya headset atau earphone selalu menempel di telinga. Padahal, kebiasaan itu berpotensi merusak pendengaran. Ahli spesialis THT menyebutkan beberapa kebiasaan lain yang memengaruhi kesehatan pendengaran, Salah satunya, menyalakan TV keras-keras tiap hari. Umumnya menonton film action tanpa diiringi suara keras tentu kurang menarik.
Kebisingan sering berasal dari suara blender dan vacuum cleaner. Intensitas bunyi-bunyian tersebut rata-rata 88 desibel. Berarti suara itu tidak boleh didengarkan lebih dari 4 jam. Bila koklea kelelahan, telinga tidak lagi sensitive terhadap suara pelan. Lama-lama telinga akan rusak bila sering mendengar suara keras. Bermain di pusat hiburan di mall misalnya harus dibatasi. Misalnya sewaktu bermain boom-boom car. Ada bahaya selain keceakaan yang luput dari perhatian. Suasana di dalam area permainan tersebut sangat bising. Terutama dari lagu-lagu yang diperdengarkan. Karena itu, batasi berada di pusat permainan yang bising. Lebih dari 1-2 jam, mengganggu pendengaran. 
Berada di tengah kebisingan 
dalam waktu lama merusak rambut-rambut yang menghubungkan koklea (cochlea atau rumah siput) dan syaraf otak. Dampaknya anak tidak bisa mendengar suara pelan. Organ koklea anak juga rentan kelelahan. Itu mengakibatkan gangguan pendengaran menetap atau permanent. Para orang tua hendaknya memahami hal itu. Indera pendengaran anak patut dilindungi. Caranya, selalu membawa ear plug maupun kapas penutup telinga. Setelah selesai bermain, orang tua bisa bertanya kepada anak mengenai organ pendengarannya. Kalau ada keluhan, secepatnya diperiksakan ke dokter THT.
Diingatkan juga bahwa prevalensi orang tuli di masa kini relative tinggi
Padahal ada 5 jenis ketulian yang bisa dicegah. Yakni, congek, tuli sejak lahir, tuli karena bising, presbiakusis (tuli pada orang tua), dan serumen (kotoran telinga). Jika 5 jenis ketulian tersebut dapat dicegah, maka angka kejadian tuli akan menurun.
(Source: Jawa Pos)
more »

Salah Obat Tetes Telinga Bisa Tuli

Keluhan Awal Kuping Gatal
Ada 5 penyakit telinga yang saat ini menjadi perhatian utama ahli kesehatan, yaitu congek (otitis media), serumen (kotoran telinga), kebisingan, tuli sejak lahir, dan ototoksik. Khusus untuk ototoksik, adalah konsumsi atau penggunaan obat tertentu yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan pendengaran. Ada beberapa jenis obat yang ototoksik. Misalnya, obat suntik, obat minum jenis antibiotik, dan obat tetes telinga. Obat suntik maupun antibiotic, tidak bisa dikonsumsi sembarangan. Obat itu harus menggunakan resep dokter. Tentu dokter tidak akan sembarangan memberikan antibiotic atau menyuntikkan jenis obat yang malah menimbulkan komplikasi.
Yang patut diawasi dan terus diingatkan
masyarakat harus waspada terhadap penggunaan obat tetes telinga. Dengan mudah dan tanpa resep dokter, masyarakat bisa datang ke apotek untuk membeli obat tetes telinga. Padahal belum tentu obat tetes telinga itu cocok dengan keluhan yang dideritanya.
Ada bermacam-macam  jenis obat tetes telinga
Penggunaannya juga harus disesuaikan dengan indikasinya. Jangan sembarangan menggunakannya. Misalnya, telinga yang terinfeksi bisa diobati dengan obat tetes merek X. Atau telinga yang terasa gatal-gatal dan tidak mempan meski sudah dibersihkan dengan cotton buds, bisa diatasi dengan obat tetes merek Y. Kebanyakan pasien tidak tahu akan indikasi setiap obat tetes telinga tersebut. Umumnya masyarakat menganggap tidak banyak jenis obat tetes telinga. Atau semua obat tetes telinga bisa menyembuhkan keluhan yang dialami indera pendengaran tersebut. Ini yang salah kaprah.
Misalnya 
ada seorang pasien yang berobat dengan keluhan telinga yang terasa sakit, berdenging, dan mengalami penurunan pendengaran. Itu terjadi setelah pasien tersebut meneteskan obat tetes telinga. Keluhan awal adalah telinganya gatal. Pasien tersebut lantas membeli obat tetes telinga di apotek tanpa konsultasi dengan dokter terlebih dulu.
Setelah diperiksa, ternyata gendang telinganya berlubang. Dijelaskan bahwa obat tetes telinga yang dibeli justru membuatnya mengalami gangguan pendengaran. Dalam kondisi gendang telinga yang berlubang, obat tetes telinga tersebut mudah masuk ke telinga bagian tengah yang di dalamnya terdapat rumah siput dan syaraf pendengaran. Padahal, seharusnya telinga bagian tengah itu steril. 
Obat tetes telinga itu masuk ke syaraf pendengaran 
Ini yang membuat pasien itu jadi mengeluh telinganya berdenging dan juga vertigo. Akhirnya dia mengalami gangguan pendengaran. Kalau hanya sampai di telinga di telinga bagian tengah, masih ada kemungkinan pasien diterapi dengan operasi. Tapi kalau sudah masuk ke telinga bagian dalam, susah mengobatinya. Pasien berisiko tinggi mengalami gangguan pendengaran yang menetap.
Bila sudah tuli menetap, mau tidak mau pasien menggunakan alat Bantu dengar. Juga perlu terapi auditory training. Kalau perlu, belajar menggunakan bahasa isyarat. Sebab, tidak ada pengobatan untuk penderita yang sudah mengalami tuli ototoksik. Karena itu, pencegahan agar tidak mengalami hal tersebut menjadi sangat penting.
Para ahli THT 
yang mengurusi penyakit pada telinga ini mengimbau masyarakat agar tidak meremehkan gangguan telinga. Jika ada keluhan, jangan diobati sendiri. Bahkan, pembersihan kotoran telinga (serumen) juga sebaiknya dilakukan dokter. Salah teknik membersihkan, akan berdampak pada telinga. Segeralah ke dokter. Itu justru tindakan terbaik. Sebab, masyarakat tidak paham tentang anatomi telinga.
Jangan pula mengabaikan gejala yang muncul dari telinga. Banyak sekali pasien yang datang ke klinik THT, sudah dalam kondisi parah. Banyak yang tidak merasa sakit pada telinganya. Padahal setelah diperiksa, gendang telinganya sudah berlubang. Nah?!
(Source: Jawa Pos)
more »